“Teeet” suara bel depan berbunyi.
“Aduuh!! Siapa sih pagi-pagi gini?! Gangguin orang tidur aja!!” gerutuku dalam
hati. Kraak… dan ternyata seorang laki-laki seumurku yang memakai baju pegawai
kantor pos
mengirimiku bingkisan. “Ada kiriman, silahkan tanda tangan disini” katanya sambil menunjuk bagian bawah selembar kertas. “Ah, i.. iya, iya.. “ sahutku. “Terima kasih” jawabnya pendek.
Sejenak matanya melihat ke dalam rumahku. “Ah..” “Ada apa?” tanyaku “Oh, nggak apa. Permisi” “Iya”. Aneh. Kenapa dia terkejut ya ketika melihat rumahku? Memangnya kenapa ya? Cuma ada foto keluargaku kok di ruang tamu. Tapi.. Hmm.. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?? Tiba-tiba aku teringat sesuatu..
mengirimiku bingkisan. “Ada kiriman, silahkan tanda tangan disini” katanya sambil menunjuk bagian bawah selembar kertas. “Ah, i.. iya, iya.. “ sahutku. “Terima kasih” jawabnya pendek.
Sejenak matanya melihat ke dalam rumahku. “Ah..” “Ada apa?” tanyaku “Oh, nggak apa. Permisi” “Iya”. Aneh. Kenapa dia terkejut ya ketika melihat rumahku? Memangnya kenapa ya? Cuma ada foto keluargaku kok di ruang tamu. Tapi.. Hmm.. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?? Tiba-tiba aku teringat sesuatu..
________________________________________________________________________
“Selamat tahun baru!!!” “hahahaha..” Banyak
saudara-saudaraku datang ke rumah malam ini. Uh, rame… “Aku keluar sebentar ya,
cari angin” kataku pada Nyla, saudaraku. “Eh, iya. Jangan lama-lama ya, seru
nihh!!” Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Tak kusangka, dingin juga ya di
luar. Hmm.. tapi pemandangannya bisa membuat aku melupakan rasa dingin ini.
Yahh,, maklum, aku jarang keluar malam hari karena aku harus menyelesaikan
novel-novelku. Tiba-tiba, bruukk!! “Kalau jalan lihat-lihat dong!!” ada suara.
Ah, kulihat ada seorang laki-laki seumurku yang mengatakan itu. Setelah itu dia
langsung pergi begitu saja.
________________________________________________________________________
Oh iya!! Iya itu dia!! Dia yang
kutabrak ketika tahun baru kemarin! Tapi, kenapa aku jadi kepikiran gitu ya?
Aneh…
“Teeet” “Iya, iya” Entah kenapa
aku berharap dia lagi yang datang. Kraak… “Haaiiii Renaa!!!!” “Re, Rei?! Ini
beneran kamu?!” “Ya, begitulah” Wah, Rei sudah pulang. Ehm.. Rei itu taman
kecilku. Dua tahun lalu dia pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. “Rena,
kamu udah terima hadiah dariku?” Oh, pasti bingkisan itu. “Ya, tapi belum aku
buka. Wah, kaget aku, setelah dua tahun ke Amerika, tahu-tahu kamu pulang
begitu saja” “Hahaha.. Aku sengaja memberimu kejutan. Mmm.. Aku boleh masuk ke
dalam sebentar? Capek nih..” “Ya pasti boleh lah.. Ada kopi, teh, roti, atau
apalah” jawabku. Kulihat dia masuk ke dalam. Oh ya, bingkisan itu. Jadi
penasaran nih.. Srek srek.. Oh!! “Rena, kamu suka hadiahku?” Waah!! Kalung!! “A.. aku suka banget!!” “Aku senang kamu suka
itu. Itu kalung ibuku. Sewaktu di Amerika beliau memberiku kalung tersebut.
Kupikir itu akan cocok untukmu, Rena” “I.. ini untukku?” “Sure, Rena” “Wah,
thank you banget Rei!!” kataku sambil tersenyum lebar. “Boleh aku ke halaman
belakangmu? Refreshing dikit gitu abis dari pesawat satu hari” “Iya, iya.
Silahkan”
Aku kembali mengamati kalung
pemberian Rei itu. Loh, di liontin yang berbentuk hati itu seperti ada celah
sedikit. Kurasa Rei tidak tahu hal ini. Bisa terbuka! Wah, ada dua foto bayi.
Oh, kembar. Mungkin yang ini Rei, dan yang ini.. Loh, setahuku Rei nggak punya
saudara, apalagi kembar. Lalu… ini siapa? Ah, nggak usah dipikirin. Mungkin aja
Rei dua-duanya kan?
“Rei, mau kumasakkan sesuatu?
Pasti kamu lapar” “Oh, nggak usah Ren, bentar lagi aku pulang kok. Aku mau ke
rumah tanteku dulu” “Hati-hati ya Rei” “Iya. Dah..” Seuntai senyum terbentuk di
bibirku. Huufffttt… Hari yang melelahkan…..
“Pagi Cathie! Uuh… Lucunya kamu
Cathie..” sapaku pada kucing kesayanganku. “Cathie, hari ini aku akan mencari
kerja part time, jadi aku taruh makanan dan minumanmu di sini yah. Daahh!!” Hmmm…
Sudah lama aku sekolah dengan dibiayai oleh kerabat ayahku. Katanya saat
orangtuaku kecelakaan, ayahku berkata pada temannya ya ng selamat supaya
membiayai sekolahku. Lama-lama aku ngerasa nggak enak. Nah, sekarang aku ingin
mencari kerja part time di kota ini..
Brrrssssss….. Kyaa!! Hujan! Ah!
Untung ada tempat berteduh di sana. Wah, basah semua nih.. Tiba- tiba ada suara
dari belakangku.. “Brr.. Shhh..” Hah?! Si.. siapa? Siapa dibelakangku?! Ketika
aku menoleh, kulihat wajah yang kukenal. “Ah!” spontan aku kaget karena dia
tukang pos kemarin! Dia hanya menatapku sebentar lalu kembali memperhatikan
jalan. Aduh, gimana ini? Rei juga lama banget sih? “Tralilili…” Ah, ada sms di
hpku. “Maaf banget ya Ren, aku g bisa njemput kamu. Maaf banget loh Ren L”
“Loh Rei…” Uuh, dasar Rei “Kenapa?” Oh, dia bertanya “Em, temanku nggak bisa
menjemputku” “Sebaiknya kita menunggu taksi disini saja” “Iya”.
Jam 19.00… Jam 21.00… Aduh,
sampai kapan aku disini nunggu taksi? Oh, syukurlah, ada taksi lewat. Dia
melambaikan tangannya. Akhirnya taksinya pun berhenti. “Aku boleh ikut taksimu?
Kurasa nggak akan ada kandaraan lain yang lewat” kuberanikan bertanya. “Oh, ok”.
Kyaaaa!!! Waw, aku sekendaraan sama dia J. “Emm, oh ya, perkenalkan, namaku Rena, lengkapnya
Rena Aflarra” kataku. “Perkenalkan, aku Rico Johan. Biasa dipanggil Rico” “Oh,
i.. iya Rico” Hihi, aku tahu namanya loh… Tak lama kemudian… “Berhenti Pak” A..
apa?! I.. ini rumahnya?! “ Ri.. Rico, kau yakin ini rumahmu?” “Ya. Ini
ongkosnya, sekalian sampai di rumahmu” “Te.. terima kasih banyak, ya” “Iya” Aku
masih kaget. Masa’ ini rumahnya? Gedung nggak jadi ini?! Udah gelap, pengap
(pastinya), kumuh, lusuh, iihhhh!!!! “Neng, sekarang kita ke mana?” pertanyaan
pak supir mengagetkanku “Oh, ke Perumahan Bunga Emas, Pak” Bruummm…. “Telpon,
telpon, ayo diangkat…” Ah, ada telepon dari Giovanni, managerku. “Halo?” “Rena,
ini aku, Giovanni. Para pembaca ingin segera melihat novel-novel barumu lagi.
Katanya mereka akan menunggu satu bulan untuk itu. Kuharap kamu tidak kehabisan
ide, dan memuaskan penggemarmu” “Ok.. ok. Akan kuusahakan” “Baik, kutunggu
secepatnya””Ok, bye” Aduh, ada-ada saja sih si Giovanni itu. Hah… Aku harus
mencari inspirasi nih….
“Selamat pagi, Pak” “Selamat pagi
anak-anak. Hari ini kita ada murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu” Kreeeeekkk…
Haahhh??!! Rico??!! “Perkenalka, nama saya Rico Johan, biasa dipanggil Rico.
Salam kenal” “Salam kenal Rico” seru ank-anak. “Nah, anak-anak, perkenalkan
diri kalian masing-masing” Haduhh… “Aku
Liza” “Aku Vahnza” “Aku Unza”… Dan tibalah saatku. “A.. a..ku Re.. Rena”
“Cie-cie… Rena tersipu-sipu yaa…” Ih, ada-ada saja teman-temanku ini. “A..apa
sih?! Kalian aneh deh..” “Udahlah Ren, ngaku aja!” sahut Zeze “ Apaan sih!!”
Uuh, dasar. “Nah, Rico, kamu duduk dibelakangnya Rena” “Cie-cie…” “Heh! Bisa
diam tidak! Dia murid baru, jadi kalian harus member contoh yang baik untuknya!!”
sela dosen. Langsung diam semua anak-anak.
“Ting Tong, Ting Tong…” saatnya
pulang. “Rena, boleh aku ke rumahmu sebentar? Ada yang mau kutanya” suara Rico
tiba-tiba di belakangku. “Eh, iya. Sebenarnya ada apa?” Rico hanya diam saja. “Renaaaa!!!!
Aku datang untuk men…”tak sempat dia mengucap kata-katanya, aku menyela. “Rei?!
Wah, aku nggak nyangka kamu disini! Oh, ya, ini, perkenalkan temanku, namanya...“
“Rico kan?” “Loh, loh, kalian udah
saling kenal ya?” mereka diam saja. Entah kenapa, sepertinya tatapan mereka aneh,
memicing. Ada apa ya? Kok gitu… “Re.. Rei, kita pulang sekarang ya..” “Sebentar
Rena, ada yang mau kuomongin sama dia” “Ja.. jangan lama-lama yah” Rasanya aka
nada sesuatu yang bakalan terjadi nih… Tungu di depan aja deh...
Tak lama kemudian.. Loh, kok
banyak anak ke ruang tengah ya? Ada apa sih? “Eh Ze, ada ap sih? Kok rame
banget kelihatannya” “Itu, katanya anak baru di kelas tadi itu bertengkar sama
anak lain” A.. apaaa??!!! Rei dan Rico??!! Aku harus segera ke sana! Drap drap…
Yaampun! Rico babak belur! Kayaknya Rico nggak melawan pukulan Rei “Hei! Kalian
ngapain sih?! Tadi katanya cuma mau ngomong, kok jadi gini sih??!!” “Udah,
udah! Cukup!!” sambungku. “Ada apa ini?!” Aduh, ada Pak Dosen lagi… “Kalian
bertiga ikut saya” “Bertiga? Loh, yang satunya siapa?” tanyaku “Ya kamu lah!
Kamu kenal kan kedua orang ini?” “I..iya sih..” “Ta..tapi saya tidak ikut-ikut
mereka, Pak..” “Sudah, ayo ikut!” Huwaaa… Aku kena getahnya…
“Rei, besok-besok jangan kayak
gitu lagi dong! Aku capek ndenger ceramah si dosen itu.. Mmm.. Emang ada apa
sih, kamu sama Rico? Dia kan anak baik” “Apa? Baik katamu? Apa pantas dia
disebut baik kalo dia udah buat kakakku meninggal?! Masih pantas?!” Ah.. Ternyata
gitu.. “Maaf” Kulihat wajahnya sangat muram. Jadi nggak enak nih… “Rei, sampai
sini aja deh, aku bisa pulang sendiri kok” “Tunggu Rena” “Ada apa?” “Kamu suka
sama Rico?” “Loh, kok tiba-tiba kamu tanya gitu sih?” “Udah kelihatan kok, dari
sikapmu” “Ah, apa iya? Selama ini aku
cuma nganggap dia temen kok. Lagipula, aku kan ada Rei” “Ma.. maksudmu?” “Yah,
Rei kan teman yang paling berarti buatku. Hihi” “Ah, kamu.. “ “Udah ya Rei,
dah…” “Good luck ya, Rena sama novel-novelmu!” “Iya, makasih ya Rei..”
Yaampun, aku jadi inget perkataan Giovanni deh.. Mm, enaknya bikin
novel apa ya? Kalo kisah cinta sih udah sering. Horor juga pernah. Humor.. Gak
terhitung. Apa ya?? “Teeett” “Iya, tunggu sebentar!” Siapa ya pagi-pagi gini?
Kraaakk…. “Pagi. Boleh aku masuk?” “Oh, Rico. Em, ya boleh, silahkan masuk” Ah,
aku jadi inget, kemarin dia kan katanya mau ke rumahku, tapi nggak jadi
gara-gara pertengkaran itu. “Ada apa Rico? Kok kamu pingin banget dateng ke
sini?” “Ah, nggak. Aku cuma mau tanya, laki-laki yang ada di foto itu ayahmu?”
“I..iya. Tapi sudah dua tahun ini beliau meninggal.Em, kenapa?” “Nggak papa
kok. Cuma tanya” “Ah, ya. Aku ada eskul d sekolah. Aku pergi dulu ya” “Oh, iya.
Hati-hati ya Ric” “Iya, terima kasih” Kok aneh ya, tiba-tiba tanya fotonya
ayah. Tapi, aku kangen sama ayah dan ibu… Ah, iya! Novelku.. Lagi krisis ide
nih… Oh ya, minta Rei ajak aku jalan-jalan aja.. Hehe.. “Halo, Rei? Ini aku,
Rena. Rei, kamu bisa temenin aku nggak? Iya, jalan-jalan gitu, buat cari
inspirasi. Ok, aku tunggu ya..” hehe.. dasar aku nakal :p. “Rei…” “Ayo Ren.
Kamu mau kemana?” “Terserah kamu aja deh, yang penting cari ide dulu” “Eee..
Aku punya tempat yang bagus. Ikut aja ya!” “Ok lah..” Bruummmm…. “Nah Ren, kita
sampai” “Waahh!! Indahnyaa!!! Laut!” “Cantik kan? Tempat ini menyimpan banyak
kenangan kita. Kamu inget waktu kita masih kecil dulu kamu tercebur di laut
yang dalamnya cuma satu meter! Haha… jadi ketawa deh... Oh ya, kamu udah dapet
ide? Rena?” Tak sadar aku melihat keseseorang yang mirip dengan Rico. Tapi,
sepertinya Rico dengan seorang perempuan. Siapa ya? “Rena? Kamu liat apa sih?”
“O..oh Rei. Tadi kamu ngomong apa?” “Kamu ngliatin apa sih?” “Ng..nggak kok.
Cuma lagi nyari ide aja” “Udahlah, jangan bohong. Kamu liat a.… Rico?” Aduuhh…
ketauan deh… “Kita pergi aja yuk Rei..” “Yaudah, ayo” Ffiuuhhhh..... Syukurlah…
Hmm.. Kira-kira kemarin Rico sama
siapa ya? Kok keliatannya akrab banget… Aku jadi kepingin tanya sama dia. Tapi
sekarang kan hari minggu, apa aku datang ke rumahnya aja ya? Ok lah. Aku naik
taksi aja deh.. “Pak, taksi..” Bruummmm….. Ah, sampai juga. “Rico? Kamu ada di
dalem?” Loh, itu kan Rico. Samperin aja deh.. Eh, tunggu, ada orang lain.
Kayaknya dia perempuan yang kemarin deh.. Siapa sih itu? “Rico!” “Rena? Itu
kamu?” “Iya, ini aku” Kulihat sepertinya dia ngomong sesuatu sama perempuan
itu. Apa dia ngasih tau siapa aku ini ya? Tu..tunggu, berarti, perempuan itu
pacarnya dong!! A..apa? “Rena, perkenalkan ini Dhynna, temen deketku” Wah,
cantik. Manis lagi.. “Dhynna” katanya sambil menyodorkan tangan untuk memberi
salam. “Aku Rena. Salam kenal..” jawabku sambil menjabat tangannya. Dia
tersenyum, dan senyumannya manis banget! Uh, kalah deh aku.. “Oh ya Ren, ada
apa kamu datang kemari?” “Ah, nggak ada apa-apa kok, emm, aku tadi cuma lewat,
kupikir bolehlah aku mampir sebentar. Maaf ya, aku menggangu, aku pulang dulu,
bye..” “Bye Rena” kata Rico. Sedangkan Dhynna hanya memberi senyumnya yang
manis. Gitu toh, jadi Rico udah punya pacar ya…
Hari ini aku males banget
sekolah, mending tidur aja deh.. Kenapa ya aku seperti ini setelah aku tahu
Rico punya pacar? Apa aku suka dia? Aahh.. Daripada mikir yang aneh-aneh, tiduran
aja dah.. Hmm… Aku mulai flashback.. Hari dimana aku ketemu Rico, Rei dateng…
Yaampun, aku jadi lupa, kalung yang dikasih Rei sama aku dimana ya? Terakhir
kali aku taruh, kayaknya di laci depan deh.. Cari ah.. Srak, srak.. Ketemu! Kalung
yang berisi dua foto bayi kembar. Lucu. Setelah kuamati, ternyata mereka ada
tanda lahir yang sama dibahu kanan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar