Kamis, 05 April 2012

Dua Cermin Cinta


“Teeet” suara bel depan berbunyi. “Aduuh!! Siapa sih pagi-pagi gini?! Gangguin orang tidur aja!!” gerutuku dalam hati. Kraak… dan ternyata seorang laki-laki seumurku yang memakai baju pegawai kantor pos
mengirimiku bingkisan. “Ada kiriman, silahkan tanda tangan disini” katanya sambil menunjuk bagian bawah selembar kertas. “Ah, i.. iya, iya.. “ sahutku. “Terima kasih” jawabnya pendek.
Sejenak matanya melihat ke dalam rumahku. “Ah..” “Ada apa?” tanyaku “Oh, nggak apa. Permisi” “Iya”. Aneh. Kenapa dia terkejut ya ketika melihat rumahku? Memangnya kenapa ya? Cuma ada foto keluargaku kok di ruang tamu. Tapi.. Hmm.. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?? Tiba-tiba aku teringat sesuatu..
________________________________________________________________________
“Selamat tahun baru!!!” “hahahaha..” Banyak saudara-saudaraku datang ke rumah malam ini. Uh, rame… “Aku keluar sebentar ya, cari angin” kataku pada Nyla, saudaraku. “Eh, iya. Jangan lama-lama ya, seru nihh!!” Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Tak kusangka, dingin juga ya di luar. Hmm.. tapi pemandangannya bisa membuat aku melupakan rasa dingin ini. Yahh,, maklum, aku jarang keluar malam hari karena aku harus menyelesaikan novel-novelku. Tiba-tiba, bruukk!! “Kalau jalan lihat-lihat dong!!” ada suara. Ah, kulihat ada seorang laki-laki seumurku yang mengatakan itu. Setelah itu dia langsung pergi begitu saja.
________________________________________________________________________
Oh iya!! Iya itu dia!! Dia yang kutabrak ketika tahun baru kemarin! Tapi, kenapa aku jadi kepikiran gitu ya? Aneh…
“Teeet” “Iya, iya” Entah kenapa aku berharap dia lagi yang datang. Kraak… “Haaiiii Renaa!!!!” “Re, Rei?! Ini beneran kamu?!” “Ya, begitulah” Wah, Rei sudah pulang. Ehm.. Rei itu taman kecilku. Dua tahun lalu dia pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. “Rena, kamu udah terima hadiah dariku?” Oh, pasti bingkisan itu. “Ya, tapi belum aku buka. Wah, kaget aku, setelah dua tahun ke Amerika, tahu-tahu kamu pulang begitu saja” “Hahaha.. Aku sengaja memberimu kejutan. Mmm.. Aku boleh masuk ke dalam sebentar? Capek nih..” “Ya pasti boleh lah.. Ada kopi, teh, roti, atau apalah” jawabku. Kulihat dia masuk ke dalam. Oh ya, bingkisan itu. Jadi penasaran nih.. Srek srek.. Oh!! “Rena, kamu suka hadiahku?”  Waah!! Kalung!!  “A.. aku suka banget!!” “Aku senang kamu suka itu. Itu kalung ibuku. Sewaktu di Amerika beliau memberiku kalung tersebut. Kupikir itu akan cocok untukmu, Rena” “I.. ini untukku?” “Sure, Rena” “Wah, thank you banget Rei!!” kataku sambil tersenyum lebar. “Boleh aku ke halaman belakangmu? Refreshing dikit gitu abis dari pesawat satu hari” “Iya, iya. Silahkan”
Aku kembali mengamati kalung pemberian Rei itu. Loh, di liontin yang berbentuk hati itu seperti ada celah sedikit. Kurasa Rei tidak tahu hal ini. Bisa terbuka! Wah, ada dua foto bayi. Oh, kembar. Mungkin yang ini Rei, dan yang ini.. Loh, setahuku Rei nggak punya saudara, apalagi kembar. Lalu… ini siapa? Ah, nggak usah dipikirin. Mungkin aja Rei dua-duanya kan?
“Rei, mau kumasakkan sesuatu? Pasti kamu lapar” “Oh, nggak usah Ren, bentar lagi aku pulang kok. Aku mau ke rumah tanteku dulu” “Hati-hati ya Rei” “Iya. Dah..” Seuntai senyum terbentuk di bibirku. Huufffttt… Hari yang melelahkan…..
“Pagi Cathie! Uuh… Lucunya kamu Cathie..” sapaku pada kucing kesayanganku. “Cathie, hari ini aku akan mencari kerja part time, jadi aku taruh makanan dan minumanmu di sini yah. Daahh!!” Hmmm… Sudah lama aku sekolah dengan dibiayai oleh kerabat ayahku. Katanya saat orangtuaku kecelakaan, ayahku berkata pada temannya ya ng selamat supaya membiayai sekolahku. Lama-lama aku ngerasa nggak enak. Nah, sekarang aku ingin mencari kerja part time di kota ini..
Brrrssssss….. Kyaa!! Hujan! Ah! Untung ada tempat berteduh di sana. Wah, basah semua nih.. Tiba- tiba ada suara dari belakangku.. “Brr.. Shhh..” Hah?! Si.. siapa? Siapa dibelakangku?! Ketika aku menoleh, kulihat wajah yang kukenal. “Ah!” spontan aku kaget karena dia tukang pos kemarin! Dia hanya menatapku sebentar lalu kembali memperhatikan jalan. Aduh, gimana ini? Rei juga lama banget sih? “Tralilili…” Ah, ada sms di hpku. “Maaf banget ya Ren, aku g bisa njemput kamu. Maaf banget loh Ren L” “Loh Rei…” Uuh, dasar Rei “Kenapa?” Oh, dia bertanya “Em, temanku nggak bisa menjemputku” “Sebaiknya kita menunggu taksi disini saja” “Iya”.
Jam 19.00… Jam 21.00… Aduh, sampai kapan aku disini nunggu taksi? Oh, syukurlah, ada taksi lewat. Dia melambaikan tangannya. Akhirnya taksinya pun berhenti. “Aku boleh ikut taksimu? Kurasa nggak akan ada kandaraan lain yang lewat” kuberanikan bertanya. “Oh, ok”. Kyaaaa!!! Waw, aku sekendaraan sama dia J. “Emm, oh ya, perkenalkan, namaku Rena, lengkapnya Rena Aflarra” kataku. “Perkenalkan, aku Rico Johan. Biasa dipanggil Rico” “Oh, i.. iya Rico” Hihi, aku tahu namanya loh… Tak lama kemudian… “Berhenti Pak” A.. apa?! I.. ini rumahnya?! “ Ri.. Rico, kau yakin ini rumahmu?” “Ya. Ini ongkosnya, sekalian sampai di rumahmu” “Te.. terima kasih banyak, ya” “Iya” Aku masih kaget. Masa’ ini rumahnya? Gedung nggak jadi ini?! Udah gelap, pengap (pastinya), kumuh, lusuh, iihhhh!!!! “Neng, sekarang kita ke mana?” pertanyaan pak supir mengagetkanku “Oh, ke Perumahan Bunga Emas, Pak” Bruummm…. “Telpon, telpon, ayo diangkat…” Ah, ada telepon dari Giovanni, managerku. “Halo?” “Rena, ini aku, Giovanni. Para pembaca ingin segera melihat novel-novel barumu lagi. Katanya mereka akan menunggu satu bulan untuk itu. Kuharap kamu tidak kehabisan ide, dan memuaskan penggemarmu” “Ok.. ok. Akan kuusahakan” “Baik, kutunggu secepatnya””Ok, bye” Aduh, ada-ada saja sih si Giovanni itu. Hah… Aku harus mencari inspirasi nih….
“Selamat pagi, Pak” “Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita ada murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu” Kreeeeekkk… Haahhh??!! Rico??!! “Perkenalka, nama saya Rico Johan, biasa dipanggil Rico. Salam kenal” “Salam kenal Rico” seru ank-anak. “Nah, anak-anak, perkenalkan diri kalian masing-masing”  Haduhh… “Aku Liza” “Aku Vahnza” “Aku Unza”… Dan tibalah saatku. “A.. a..ku Re.. Rena” “Cie-cie… Rena tersipu-sipu yaa…” Ih, ada-ada saja teman-temanku ini. “A..apa sih?! Kalian aneh deh..” “Udahlah Ren, ngaku aja!” sahut Zeze “ Apaan sih!!” Uuh, dasar. “Nah, Rico, kamu duduk dibelakangnya Rena” “Cie-cie…” “Heh! Bisa diam tidak! Dia murid baru, jadi kalian harus member contoh yang baik untuknya!!” sela dosen. Langsung diam semua anak-anak.
“Ting Tong, Ting Tong…” saatnya pulang. “Rena, boleh aku ke rumahmu sebentar? Ada yang mau kutanya” suara Rico tiba-tiba di belakangku. “Eh, iya. Sebenarnya ada apa?” Rico hanya diam saja. “Renaaaa!!!! Aku datang untuk men…”tak sempat dia mengucap kata-katanya, aku menyela. “Rei?! Wah, aku nggak nyangka kamu disini! Oh, ya, ini, perkenalkan temanku, namanya...“  “Rico kan?” “Loh, loh, kalian udah saling kenal ya?” mereka diam saja. Entah kenapa, sepertinya tatapan mereka aneh, memicing. Ada apa ya? Kok gitu… “Re.. Rei, kita pulang sekarang ya..” “Sebentar Rena, ada yang mau kuomongin sama dia” “Ja.. jangan lama-lama yah” Rasanya aka nada sesuatu yang bakalan terjadi nih… Tungu di depan aja deh...
Tak lama kemudian.. Loh, kok banyak anak ke ruang tengah ya? Ada apa sih? “Eh Ze, ada ap sih? Kok rame banget kelihatannya” “Itu, katanya anak baru di kelas tadi itu bertengkar sama anak lain” A.. apaaa??!!! Rei dan Rico??!! Aku harus segera ke sana! Drap drap… Yaampun! Rico babak belur! Kayaknya Rico nggak melawan pukulan Rei “Hei! Kalian ngapain sih?! Tadi katanya cuma mau ngomong, kok jadi gini sih??!!” “Udah, udah! Cukup!!” sambungku. “Ada apa ini?!” Aduh, ada Pak Dosen lagi… “Kalian bertiga ikut saya” “Bertiga? Loh, yang satunya siapa?” tanyaku “Ya kamu lah! Kamu kenal kan kedua orang ini?” “I..iya sih..” “Ta..tapi saya tidak ikut-ikut mereka, Pak..” “Sudah, ayo ikut!” Huwaaa… Aku kena getahnya…
“Rei, besok-besok jangan kayak gitu lagi dong! Aku capek ndenger ceramah si dosen itu.. Mmm.. Emang ada apa sih, kamu sama Rico? Dia kan anak baik” “Apa? Baik katamu? Apa pantas dia disebut baik kalo dia udah buat kakakku meninggal?! Masih pantas?!” Ah.. Ternyata gitu.. “Maaf” Kulihat wajahnya sangat muram. Jadi nggak enak nih… “Rei, sampai sini aja deh, aku bisa pulang sendiri kok” “Tunggu Rena” “Ada apa?” “Kamu suka sama Rico?” “Loh, kok tiba-tiba kamu tanya gitu sih?” “Udah kelihatan kok, dari sikapmu” “Ah, apa iya? Selama ini  aku cuma nganggap dia temen kok. Lagipula, aku kan ada Rei” “Ma.. maksudmu?” “Yah, Rei kan teman yang paling berarti buatku. Hihi” “Ah, kamu.. “ “Udah ya Rei, dah…” “Good luck ya, Rena sama novel-novelmu!” “Iya, makasih ya Rei..”
Yaampun, aku jadi inget  perkataan Giovanni deh.. Mm, enaknya bikin novel apa ya? Kalo kisah cinta sih udah sering. Horor juga pernah. Humor.. Gak terhitung. Apa ya?? “Teeett” “Iya, tunggu sebentar!” Siapa ya pagi-pagi gini? Kraaakk…. “Pagi. Boleh aku masuk?” “Oh, Rico. Em, ya boleh, silahkan masuk” Ah, aku jadi inget, kemarin dia kan katanya mau ke rumahku, tapi nggak jadi gara-gara pertengkaran itu. “Ada apa Rico? Kok kamu pingin banget dateng ke sini?” “Ah, nggak. Aku cuma mau tanya, laki-laki yang ada di foto itu ayahmu?” “I..iya. Tapi sudah dua tahun ini beliau meninggal.Em, kenapa?” “Nggak papa kok. Cuma tanya” “Ah, ya. Aku ada eskul d sekolah. Aku pergi dulu ya” “Oh, iya. Hati-hati ya Ric” “Iya, terima kasih” Kok aneh ya, tiba-tiba tanya fotonya ayah. Tapi, aku kangen sama ayah dan ibu… Ah, iya! Novelku.. Lagi krisis ide nih… Oh ya, minta Rei ajak aku jalan-jalan aja.. Hehe.. “Halo, Rei? Ini aku, Rena. Rei, kamu bisa temenin aku nggak? Iya, jalan-jalan gitu, buat cari inspirasi. Ok, aku tunggu ya..” hehe.. dasar aku nakal :p. “Rei…” “Ayo Ren. Kamu mau kemana?” “Terserah kamu aja deh, yang penting cari ide dulu” “Eee.. Aku punya tempat yang bagus. Ikut aja ya!” “Ok lah..” Bruummmm…. “Nah Ren, kita sampai” “Waahh!! Indahnyaa!!! Laut!” “Cantik kan? Tempat ini menyimpan banyak kenangan kita. Kamu inget waktu kita masih kecil dulu kamu tercebur di laut yang dalamnya cuma satu meter! Haha… jadi ketawa deh... Oh ya, kamu udah dapet ide? Rena?” Tak sadar aku melihat keseseorang yang mirip dengan Rico. Tapi, sepertinya Rico dengan seorang perempuan. Siapa ya? “Rena? Kamu liat apa sih?” “O..oh Rei. Tadi kamu ngomong apa?” “Kamu ngliatin apa sih?” “Ng..nggak kok. Cuma lagi nyari ide aja” “Udahlah, jangan bohong. Kamu liat a.… Rico?” Aduuhh… ketauan deh… “Kita pergi aja yuk Rei..” “Yaudah, ayo” Ffiuuhhhh..... Syukurlah…
Hmm.. Kira-kira kemarin Rico sama siapa ya? Kok keliatannya akrab banget… Aku jadi kepingin tanya sama dia. Tapi sekarang kan hari minggu, apa aku datang ke rumahnya aja ya? Ok lah. Aku naik taksi aja deh.. “Pak, taksi..” Bruummmm….. Ah, sampai juga. “Rico? Kamu ada di dalem?” Loh, itu kan Rico. Samperin aja deh.. Eh, tunggu, ada orang lain. Kayaknya dia perempuan yang kemarin deh.. Siapa sih itu? “Rico!” “Rena? Itu kamu?” “Iya, ini aku” Kulihat sepertinya dia ngomong sesuatu sama perempuan itu. Apa dia ngasih tau siapa aku ini ya? Tu..tunggu, berarti, perempuan itu pacarnya dong!! A..apa? “Rena, perkenalkan ini Dhynna, temen deketku” Wah, cantik. Manis lagi.. “Dhynna” katanya sambil menyodorkan tangan untuk memberi salam. “Aku Rena. Salam kenal..” jawabku sambil menjabat tangannya. Dia tersenyum, dan senyumannya manis banget! Uh, kalah deh aku.. “Oh ya Ren, ada apa kamu datang kemari?” “Ah, nggak ada apa-apa kok, emm, aku tadi cuma lewat, kupikir bolehlah aku mampir sebentar. Maaf ya, aku menggangu, aku pulang dulu, bye..” “Bye Rena” kata Rico. Sedangkan Dhynna hanya memberi senyumnya yang manis. Gitu toh, jadi Rico udah punya pacar ya…
Hari ini aku males banget sekolah, mending tidur aja deh.. Kenapa ya aku seperti ini setelah aku tahu Rico punya pacar? Apa aku suka dia? Aahh.. Daripada mikir yang aneh-aneh, tiduran aja dah.. Hmm… Aku mulai flashback.. Hari dimana aku ketemu Rico, Rei dateng… Yaampun, aku jadi lupa, kalung yang dikasih Rei sama aku dimana ya? Terakhir kali aku taruh, kayaknya di laci depan deh.. Cari ah.. Srak, srak.. Ketemu! Kalung yang berisi dua foto bayi kembar. Lucu. Setelah kuamati, ternyata mereka ada tanda lahir yang sama dibahu kanan mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar